celah bibir dan langit-langit

Tahapan Perawatan Celah Bibir dan Langit-langit (Bibir sumbing)

Moms and Dads, bila kita dikaruniai Allah, seorang bayi mungil dengan celah bibir, langit-langit dan gusi (labiognatopalatoschizis) atau salah satu dan salah duanya, hal pertama yang harus kita lakukan adalah membawa si kecil ke dsa (dokter spesialis anak).  Minta dsa untuk memeriksa bayi kita, apakah hanya ada cbl atau ada kelainan lainnya (multiple birth defects).  Bila hanya ada cbl, maka si kecil dapat dirawat seperti layaknya bayi normal lainnya sejak dia sampai di rumah.  Bagaimana memberi susu pada bayi dengan cbl bisa dibaca di sini.

Namun, bila ada kelainan lain, maka si kecil akan memerlukan perawatan dan/atau terapi lain terkait kelainannya tersebut, dan dsa dapat membantu anda mendiagnosa dan memberi saran terbaik tentang apa yang harus dilakukan berikutnya.

Untuk cblnya sendiri, tahapan penatalaksanaan yang akan dijalani oleh penderita celah bibir dan langit-langit antara lain adalah:

(1) Operasi pada celah bibir saat memasuki usia 10 minggu/3 bulan dengan berat minimal 5 kg, dan kadar hemoglobin 10 gr%. Dikenal juga dengan istilah ‘rules of 10″, anak sudah mencapai berat 10 pounds, hb 10 dan usia sudah 10 minggu. Continue reading “Tahapan Perawatan Celah Bibir dan Langit-langit (Bibir sumbing)”

celah bibir dan langit-langit

‘Perjuangan’ minum susu: Bayi dengan celah bibir dan langit-langit (sumbing)

ASI?  Ofcourse not.  Sedihnya punya baby cbl itu karena dia kurang bisa menyusu langung dari ibunya. Jika langit-langitmu bolong dan mencoba untuk menghisap sesuatu, bayangkan saja seperti mencoba menyedot segelas susu dengan sedotan bocor, susah banget kan?  Nah, seperti itulah kira-kira yang terjadi pada Rael.  Perah ASI?  sudah dong dicoba, tapi sayangnya saya bukan produsen ASI yang baik, biar diperah sepanjang hari, maksimal cuma 50cc. Ya sudahlah, memang nasib Rael jadi anak sapi kaleng hehe..

Ngedot?  Dengan alasan yang sama seperti di atas, katanya juga gak bisa. Makanya dari waktu di RS, Rael dikasih susu memakai pipet.  Pipet yang dibuat dari spuit, suntikan tanpa jarumnya. Ya iyalah, masa pake jarumnya :P.  Dan bayi itu memang amazing ya… cepatnya dia beradaptasi untuk memenuhi kebutuhan utamanya dalam berkembang, eat and drink, jadi dengan spuit pun Rael tidak kesulitan untuk minum susu.  Tapi spuit ini cepat rusak di bagian karetnya, jadi sebentar saja sudah seret, sulit sekali mendorong susu keluar dari spuit.  Cari suntikan juga susah, gak semua apotek mau menjual suntikan. Atau kalaupun ada, yang ukurannya kecil-keciil, lama kenyangnya dong Rael.  Akhirnya bapak Rael beli spuit yang untuk obat, lumayan besar ukurannya, lumayan juga harganya :P.  Beli dua waktu itu, untuk persediaan seandainya yang satu cepat rusak juga. Oia, Rael dari RS dikasihnya susu S26, jadi kita teruskan saja dia minum S26.

Continue reading “‘Perjuangan’ minum susu: Bayi dengan celah bibir dan langit-langit (sumbing)”