Wildlife

Anoa Lambusango: Sebuah ironi

anoa-pic.jpgcatatan lapangan terbaru dari Buton

Sigh. Ya, saya harus menghela nafas dulu sebelum memulai tulisan ini. Sedih, itu saja alasannya.

Di Pulau Buton, kebanyakan orang menghormati anoa seperti orang Sumatera menghormati harimau. Bahkan menyebut namanya pun tabu, ‘nenek’ demikian mereka menyebutnya. Anoa dipercaya sebagai penguasa hutan, ganas dan mematikan. Anoa adalah tunggangan yang perkasa bagi mahluk halus penghuni hutan. Tak ada yang bisa dilakukan manusia selain menghindarinya jauh-jauh. Hingga saat ini, sebagian orang masih enggan membicarakan anoa karena takut terkena tulah, celaka karena anoa bila suatu saat bertemu dengan binatang tersebut.

Bagi anoa sendiri, akankah kepercayaan lama ini melindungi mereka dari bahaya hilang selamanya dari muka bumi? (read more)

adventure, Dreams and imaginations, Wildlife

Little note from Buton

Tadi, iseng saya buka-buka lagi blog lama di Friendster yang sudah lama sekali gak dilihat. Eh saya nemu catatan kecil dari Buton tahun lalu. Buat saya, catatan itu cukup mewakili seluruh kenang-kenangan saya di Buton dari 2005 sampai 2007….
Saya suka catatan itu, jadi ini saya tulis lagi di sini ya… Gak papa kan sedikit mengulang.

Negeri Babi
Baru lima menit kami berjalan memasuki lembah itu, seekor babi kecil melintas berkelebat meninggalkan gemerisik daun-daun di belakangnya. Itulah negeri babi. Negeri babi yang dijaga sapi-sapi. Hanya anoa gagah berani yang bisa masuk ke sini. Satu dua jejaknya yang jarang pun jadi bukti. Kami masuk melewati lembah sempit dengan daun-daun pandan menjuntai mirip tirai. Seketika perasaan senyap menyelimuti kami. (read more)

Personal

Duren

Durian runtuh anoa yang saya dapat (baca postingan sebelumnya, red.) ternyata punya hadiah tambahan yang gak disangka-sangka. The biggest surprised dalam kehidupan saya sampai saat ini. Bonus ini bahkan jauh lebih berharga daripada hadiah utamanya yang berupa gelar doktor. Kok bisa?

Iya dong, soalnya bonus ini berupa mate for life.

Waktu saya baru mulai proyek anoa tahun 2005 lalu, di tengah hutan Lambusango, saya bertemu dengan suami untuk pertama kali. Kami berkenalan, menjadi teman baik, dan sepulangnya dari Buton, kami pun melewati masa pacaran sangat singkat, yang kapan mulainya pun kami tidak tahu. Sampai akhirnya kami mengucap akad pada 797 yang lalu.

Bener-bener durian runtuh, karena menikah itu juga…enak tapi sakit, sakit tapi enak

he he. Bahkan malam pertamanya pun kadang disebut sebagai upacara belah duren.

Duren emang enak!

adventure, Wildlife

Kartu Peduli Anoa

mt-amoa.jpg

“Jumlah anoa mungkin masih banyak, tapi yang jelas jumlah tersebut terus menurun dari tahun ke tahun”

Demikian bunyi poin pertama dari Kartu Peduli Anoa yang kami sebarkan di Buton, dalam rangka menjaga kelestarian satwa bertanduk runcing tersebut.

Anoa yang nama ilmiahnya Bubalus depressicornis dan Bubalus quarlesi (ada dua jenis anoa yang diakui sampai saat ini), adalah sepupu jauh kerbau yang ukuran badannya jauh lebih kecil ketimbang si kerbau. Tinggi bahunya hanya sekitar satu meter. Karena itu jugalah anoa disebut dwarf buffalo atau kerbau kerdil.

Anoa menjadi sangat istimewa karena hanya terdapat di Pulau Sulawesi dan Buton. Satwa endemik, demikian istilah kerennya. Karena istimewanya itu, anoa dipilih sebagai lambang daerah Sulawesi Tenggara, dan Sultra menyebut dirinya sebagai Bumi Anoa. Pas, karena populasi anoa yang tersisa, memang paling banyak terdapat di Sulawesi Tenggara. (read more)