Nothing serious

PCR lagi

Sudah hampir jam 8 malam di sini, satu mesin PCR dengan sampel-sampel anoa masih sibuk menaikturunkan suhunya, melipatgandakan sejumlah rantai DNA. Mesin itu akan berhenti sekitar pukul 9 malam nanti…

Kalau primer (rantai pendek DNA) yang digunakan tepat, dan bisa mengikat dan melipatgandakan rantai DNA yang saya cari.. maka selesailah pencarian saya selama ini..

Untuk mengidentifikasi tiap individu anoa, digunakan rantai microsatellite DNA, yaitu rantai DNA netral yang tidak terpengaruh seleksi alam tetapi tinggi tingkat mutasinya. Akibatnya, tiap individu anoa memiliki DNA microsatellite yang berbeda-beda panjangnya. Rantai DNA microsatellite dapat dikenali dengan dua basis DNA yang berulang cukup panjang, misalnya GAGAGAGAGAGAGAGA atau CTCTCTCTCTCTCTCT. Untuk ‘menangkap’ rantai DNA microsatellite dan memperbanyaknya melalui PCR, diperlukan pasangan primer yang tepat, yang terikat dengan baik di kedua ujung rantai microsatellite.

Nah, dua bulan terakhir, saya ‘asik’ mendisain rantai primer tersebut. Untuk menyelsesaikan pekerjaan anoa ini, saya butuh 20 pasang primer yang tepat dan dapat mengikat rantai microsatellite tertentu. Selama ini, baru 4 dari 20 pasang yang saya butuhkan, berhasil dengan baik mengikat rantai microsatellite.

Sepanjang siang dan sore tadi, ada 13 pasang primer yang sudah diPCR-kan, dan malam ini, ada 6 pasang lagi yang masih berusaha melipatgandakan rantai DNA di mesin PCR sampai jam 9 malam nanti.

Hasilnya?

Hasil PCR bisa kita lihat pada media agar-agar. Running gel istilahnya di sini. Butuh beberapa jam untuk running gel semua hasil PCR saya hari ini. Tetapi saya memutuskan untuk menundanya sampai hari Rabu, karena besok saya mau jalan-jalan ke kota lain, menyelesaikan Chapter 4 yang sudah berbulan-bulan tak tentu bentuknya itu…

Jadi, doakan saja, semoga hari Rabu nanti.. saya dapat hasil seperti gambar di bawah ini. Dan saya bisa merayakannya dengan meloncat-loncat dan menari-nari di sepanjang koridor lab.. 😀

(microsatellite DNA-nya yang berupa garis-garis putih di bagian bawah gambar. Sebagai catatan: result like this, can definitely make your day!).

Wildlife

Anoa Lambusango: Sebuah ironi

anoa-pic.jpgcatatan lapangan terbaru dari Buton

Sigh. Ya, saya harus menghela nafas dulu sebelum memulai tulisan ini. Sedih, itu saja alasannya.

Di Pulau Buton, kebanyakan orang menghormati anoa seperti orang Sumatera menghormati harimau. Bahkan menyebut namanya pun tabu, ‘nenek’ demikian mereka menyebutnya. Anoa dipercaya sebagai penguasa hutan, ganas dan mematikan. Anoa adalah tunggangan yang perkasa bagi mahluk halus penghuni hutan. Tak ada yang bisa dilakukan manusia selain menghindarinya jauh-jauh. Hingga saat ini, sebagian orang masih enggan membicarakan anoa karena takut terkena tulah, celaka karena anoa bila suatu saat bertemu dengan binatang tersebut.

Bagi anoa sendiri, akankah kepercayaan lama ini melindungi mereka dari bahaya hilang selamanya dari muka bumi? (read more)

adventure, Dreams and imaginations, Wildlife

Little note from Buton

Tadi, iseng saya buka-buka lagi blog lama di Friendster yang sudah lama sekali gak dilihat. Eh saya nemu catatan kecil dari Buton tahun lalu. Buat saya, catatan itu cukup mewakili seluruh kenang-kenangan saya di Buton dari 2005 sampai 2007….
Saya suka catatan itu, jadi ini saya tulis lagi di sini ya… Gak papa kan sedikit mengulang.

Negeri Babi
Baru lima menit kami berjalan memasuki lembah itu, seekor babi kecil melintas berkelebat meninggalkan gemerisik daun-daun di belakangnya. Itulah negeri babi. Negeri babi yang dijaga sapi-sapi. Hanya anoa gagah berani yang bisa masuk ke sini. Satu dua jejaknya yang jarang pun jadi bukti. Kami masuk melewati lembah sempit dengan daun-daun pandan menjuntai mirip tirai. Seketika perasaan senyap menyelimuti kami. (read more)

adventure, Wildlife

Kartu Peduli Anoa

mt-amoa.jpg

“Jumlah anoa mungkin masih banyak, tapi yang jelas jumlah tersebut terus menurun dari tahun ke tahun”

Demikian bunyi poin pertama dari Kartu Peduli Anoa yang kami sebarkan di Buton, dalam rangka menjaga kelestarian satwa bertanduk runcing tersebut.

Anoa yang nama ilmiahnya Bubalus depressicornis dan Bubalus quarlesi (ada dua jenis anoa yang diakui sampai saat ini), adalah sepupu jauh kerbau yang ukuran badannya jauh lebih kecil ketimbang si kerbau. Tinggi bahunya hanya sekitar satu meter. Karena itu jugalah anoa disebut dwarf buffalo atau kerbau kerdil.

Anoa menjadi sangat istimewa karena hanya terdapat di Pulau Sulawesi dan Buton. Satwa endemik, demikian istilah kerennya. Karena istimewanya itu, anoa dipilih sebagai lambang daerah Sulawesi Tenggara, dan Sultra menyebut dirinya sebagai Bumi Anoa. Pas, karena populasi anoa yang tersisa, memang paling banyak terdapat di Sulawesi Tenggara. (read more)