Personal

Duren

Durian runtuh anoa yang saya dapat (baca postingan sebelumnya, red.) ternyata punya hadiah tambahan yang gak disangka-sangka. The biggest surprised dalam kehidupan saya sampai saat ini. Bonus ini bahkan jauh lebih berharga daripada hadiah utamanya yang berupa gelar doktor. Kok bisa?

Iya dong, soalnya bonus ini berupa mate for life.

Waktu saya baru mulai proyek anoa tahun 2005 lalu, di tengah hutan Lambusango, saya bertemu dengan suami untuk pertama kali. Kami berkenalan, menjadi teman baik, dan sepulangnya dari Buton, kami pun melewati masa pacaran sangat singkat, yang kapan mulainya pun kami tidak tahu. Sampai akhirnya kami mengucap akad pada 797 yang lalu.

Bener-bener durian runtuh, karena menikah itu juga…enak tapi sakit, sakit tapi enak

he he. Bahkan malam pertamanya pun kadang disebut sebagai upacara belah duren.

Duren emang enak!

adventure, Wildlife

Kartu Peduli Anoa

mt-amoa.jpg

“Jumlah anoa mungkin masih banyak, tapi yang jelas jumlah tersebut terus menurun dari tahun ke tahun”

Demikian bunyi poin pertama dari Kartu Peduli Anoa yang kami sebarkan di Buton, dalam rangka menjaga kelestarian satwa bertanduk runcing tersebut.

Anoa yang nama ilmiahnya Bubalus depressicornis dan Bubalus quarlesi (ada dua jenis anoa yang diakui sampai saat ini), adalah sepupu jauh kerbau yang ukuran badannya jauh lebih kecil ketimbang si kerbau. Tinggi bahunya hanya sekitar satu meter. Karena itu jugalah anoa disebut dwarf buffalo atau kerbau kerdil.

Anoa menjadi sangat istimewa karena hanya terdapat di Pulau Sulawesi dan Buton. Satwa endemik, demikian istilah kerennya. Karena istimewanya itu, anoa dipilih sebagai lambang daerah Sulawesi Tenggara, dan Sultra menyebut dirinya sebagai Bumi Anoa. Pas, karena populasi anoa yang tersisa, memang paling banyak terdapat di Sulawesi Tenggara. (read more)

Dreams and imaginations, Nothing serious

Kesetaraan Gender

Saat ini saya sedang ada di Buton, Sulawesi Tenggara. Masih ada tugas penelitian yang tersisa dan HARUS dikerjakan, secara saya punya kewajiban menyelesaikan tugas tersebut kepada sang donor. Sementara saya di Buton, suami bertugas ke Kalimantan Timur. Kami akan berada di tempat masing-masing selama dua minggu sebelum bertemu lagi di Jakarta.

Malam kemarin, kami telpon-telponan, bertukar laporan ‘hari ini’ dari Buton dan Kaltim. Di antara berbagai ceritanya, suami sempat bercerita begini:

“Eh iya, kemaren abis antar kamu ke bandara, aku ketemu temen-temen. Mereka nawarin proyek, tapi trus kubilang: waah sori, gak bisa. Gue ke Kalimantan besok, pergi dua minggu”

“Waah gimana bini lo? Kesepian dong ditinggal dua minggu”

Demikian teman-temannya berkomentar. Kami memang masih tergolong pengantin baru, jadi wajar juga kalau teman-temannya berkomentar demikian. Penganten baru kok udah ditinggal pergi. (read more)

Personal

Seks Blunder

Saya tidak tahu, mana yang lebih banyak: pasutri yang keberatan pasangannya nonton film porno atau yang tidak keberatan. Yang jelas, saya cukup sering membaca di rubrik konsultasi, tentang istri-istri yang keberatan dan khawatir bila suaminya suka nonton film porno. Bagaimana sebaliknya? Ada gak ya suami yang keberatan istrinya nonton film porno? Atau mungkin para suami malah senang kalau istri-istri bisa juga jadi penikmat film yang masuk kategori porno, blue, dan bokep tersebut.

Mungkin suami saya juga begitu, atau paling enggak, dia gak keberatan kalau saya sesekali nonton film porno. Sebenarnya kami berdua sama-sama tidak keberatan (atau mungkin belum). Sampai saat ini, suami saya biasanya dengan senang hati meminjamkan film porno yang dia punya untuk saya tonton..

Nah, pada suatu malam, tiba-tiba saja saya pengen nonton film bokep lagi. (read more)